5 Tips Penting Kalau Tersesat Saat Mendaki Gunung Agar Mudah Ditemukan Tim SAR

tips tersesat di gunung
Tersesat di dalam gunung masih saja dialami oleh pendaki. Kondisi buruk itu terjadi biasanya karena mereka tidak memahami medan pendakian, dan tidak melakukan persiapan dengan sangat matang. Belum lama ini kasus serupa terjadi di Gunung Semeru, dimana dua pendaki asal Cirebon tersesat. Meskipun akhirnya berhasil ditemukan oleh tim SAR. Nah, agar Anda tidak tersesat saat pendakian, apakah yang seharusnya senantiasa dilakukan?


Jangan Panik! Segera Kembali Ke Titik Awal Pendakian Atau Menuju Puncak

Sebelum melakukan pendakian sudah menjadi keharusan bagi pendaki untuk menghitung estimasi waktu yang dibutuhkan untuk mendaki gunung yang dituju. Kemudian lakukan pemetaan jalur pendakian, mengetahui kondisi cuaca, persiapan bekal logistik, pakaian, dan sebagainya. Sebelum memutuskan untuk melakukan pendakian, Anda juga harus menghitung setiap risiko terburuk yang akan terjadi, salah satunya adalah risiko tersesat di kawasan gunung.

Namun, kalau ternyata risiko tersesat menimpa Anda, tidak perlu panik. Biasanya dalam kondisi tersebut, pendaki cenderung melangkah tanpa kejelasan. Memang tujuannya untuk mencari jalan keluar agar tidak semakin tersesat. Sayangnya, bukannya mendapatkan jalan yang benar, tapi malahan semakin melangkah tanpa arah yang jelas.

Pada kondisi tersesat, sangat tepat kalau Anda kembali ke titik start atau titik awal pendakian. Bisa juga langsung menuju arah puncak. Penentuan kembali ke titik awal atau langsung menuju puncak, tergantung dari arah mana yang lebih dekat. Cara tersebut akan memudahkan tim SAR untuk menemukan pendaki yang tersesat. Dengan mengambil keputusan tersebut, ada juga kemungkinan bisa bertemu  dengan pendaki lainnya.

Bermalam di Tempat Datar dan Terbuka

Kalau sudah menjelang malam, dan masih tidak tahu arah untuk melanjutkan pendakian, sangat dianjurkan untuk mencari ruang terbuka agar Anda bisa beristirahat. Tempat yang aman untuk bermalam adalah di kawasan yang tanahnya datar dan terbuka. Supaya memudahkan pencarian melalui udara, bisa membuat tanda khusus seperti menyusun kayu atau batu membentuk nama tertentu.

Nah, penting juga untuk selalu memberitahukan kepada petugas registrasi sebelum mendaki gunung. Tujuannya agar mereka bisa mengetahui barang tertentu yang Anda bawa. Dengan begitu, nantinya kalau terpaksa tersesat bisa menggantungkan barang simbolik tersebut di pepohonan. Barang itu bisa seperti pakaian, syal, dan sebagainya. Sehingga akan memudahkan tim SAR saat pencarian melalui udara.

Konsumsi Dedaunan Muda Kalau Bekal Makanan Sudah Habis

Kalau bekal makanan sudah habis bisa memakan dedaunan yang masih muda. Nah, inilah kenapa persiapan matang sangat penting sebelum melakukan pendakian. Sebagai pendaki sangat wajib untuk mengetahui jenis hutan, dan juga aneka vegetasi yang berada di dalamnya. Dengan begitu, Anda pun bisa mengetahui dan menemukan jenis daun yang dapat dikonsumsi.

Daun mudah lebih cocok dikonsumsi, karena lebih gampang dicerna di dalam perut. Perlu diketahui kalau tidak semua buah di dalam hutan atau kawasan gunung bisa disantap. Dikarenakan tidak semuanya aman, sehingga bisa saja membuat orang yang memakannya mengalami keracunan.

Memahami Arah Melalui Tanda-Tanda Alam

Selalu membawa kompas sangat penting kala sedang melakukan pendakian. Memang ada sejumlah tanda alam yang bisa menjadi petunjuk arah di kawasan gunung. Sebagai contoh, jika menemukan pepohonan yang ditumbuhi lumut, sebagai tanda kalau Anda tengah menghadap ke arah timur. Jika saat malam hari terdapat bintang yang paling terang sinarnya, sebagai tanda kalau itu merupakan arah utara.

Waspadai Serangan Hipotermia dengan Mengetahui Gejalanya
                                                                                                            Tersesat di dalam gunung sering kali berujung kematian. Oleh karena itu, setiap pendaki harus sangat waspada. Jangan pernah menyepelekan segala sesuatunya sebelum melakukan pendakian. Sedikit kesalahan bisa saja membuat seseorang mengalami kondisi sangat fatal. Penting juga bagi pendaki untuk mengetahui kondisi hipotermia.

Serangan hipotermia tidak hanya dialami saat mendaki gunung es. Karena terbukti bisa juga dialami pendaki yang mendaki gunung di kawasan tropis. Untuk itu, setiap pendaki harus memahami gejalanya, sehingga tidak salah dalam melakukan penanganannya.

Pada umumnya hipotermia bisa menyerang pendaki, dikarenakan ketinggian, suhu, dan kondisi tubuh. Kalau suhu bagian dalam tubuhnya berada di angka kurang dari 35 derajat Celcius, maka kondisi hipotermia bisa dialami pendaki gunung. Perlu diketahui kalau suhu dalam sangat berlainan dengan suhu kulit atau suhu luar.

Suhu badan yang normal berkisar antara 36,5 hingga 37,5 derajat Celcius. Kalau suhu tubuhnya kurang dari angka tersebut, maka tubuh akan memberikan respon untuk mengatur suhunya. Dengan menyeimbangkan panas tubuh, dan sekaligus kehilangan panas di dalam tubuhnya.

Sebagian besar pendaki tidak tersadar kalau dirinya sudah mengalami gejala hipotermia. Terkadang mereka masih saja memaksakan diri untuk terus menuju ke puncak gunung. Padahal detak jantungnya sudah melemah, dan kulitnya sudah nampak membiru.

Kondisi hipotermia bisa berujung sangat fatal, karena bisa mengakibatkan kematian. Sebagai antisipasi untuk kemungkinan terburuk tersebut, maka pendaki harus senantiasa membekali diri dengan berbagai informasi terkait gejala hipotermia. Beberapa gejalanya adalah muntah-muntah, halusinasi, tidak berhenti menggigil, bicaranya melantur, tekanan darah menurun, dan kulitnya terlihat berwarna abu-abu.

Pendaki bisa menggigil dikarenakan ototnya mengalami kontraksi. Kondisi itu terjadi sebagai usaha tubuh, agar bisa menghasilkan panas. Kalau penyebab hipotermia bisa sangat beragam. Namun, secara umum suhu dan ketinggian kawasan gunung biasanya menjadi faktor utamanya. Selain itu, bisa karena faktor pendaki sendiri, seperti kondisi tubuh yang kurang fit, kurang asupan makanan, tidur mengenakan pakaian basah, dan sebagainya.

Nah, kalau Anda atau pendaki lain mengalami hipotermia, segera mengganti pakaian dengan yang lebih bersih dan kering. Kemudian diselimuti atau masuk ke dalam sleeping bag. Jangan lupa untuk memberikannya air minum putih yang masih hangat. Dengan mengonsumsi air hangat, maka harapannya tubuhnya tidak lagi menggigil. Setelah itu bisa mengonsumsi makanan hangat.



Komentar

  1. terimakasih tips nya kak, aku juga punya tips biar gak tersesat di Jakarta baca ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama2 kak, siap saya baca juga tipsnya

      Hapus

Posting Komentar